Sebelum memasuki tahun kedua sebagai seorang mahasiswa perguruan tinggi negeri yang dikenal kedekatannya dengan rakyat, kali ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman mengenai organisasi yang tumbuh berkembang di antara teman-teman mahasiswa.
Memang belum genap satu tahun saya menjadi mahasiswa, namun hal itu tinggalah hitungan minggu. Karena seperti kita tahu UGM sudah mengumumkan calon mahasiswa baru perguruan tinggi terkemuka ini. Dan tak terasa, sebentar lagi angkatan 2009 sudah mempunyai adik angkatan 2010.
Jujur saja jika saya berbicara organisasi dirasa memang belum pantas, masih anak bawang, tapi saya tetap ingin menyampaikan beberapa pesan dalam tulisan ini. Mari kita putar waktu kembali kira-kira ke tahun lalu, untuk mengingat saat saya dibingungkan melihat begitu banyak organisasi yang harus saya pilih maupun tidak.
Wajar saja, perguruan tinggi sebesar ini memliki begitu banyak wadah aktivitas bagi pelajarnya. Berbagai jenis wadah positif bisa kita ikuti untuk memperdalam dan memfokuskan minat dan bakat kita. Tersedia puluhan pilihan Unit Kegiatan Mahasiswa, tinggal dipilih mana yang lebih diminati. Mungkin ada teman-teman yang ingin mengisi waktu disela kuliah dengan kegiatan diskusi, menulis, bela diri, olahraga, kesenian, kepanduan, dan sebagainya. Di luar UKM juga masih ada organisasi kepolitikan seperti BEM KM dan BEM Fakultas. Belum lagi organisasi KM atau HM (Keluarga/Himpunan Mahasiswa) yang ada di setiap jurusan. Masih ada lagi wadah aktivitas kemahasiswaan BSO atau LSO (Badan/Lembaga Semi-Otonom) yang ada di hampir semua fakultas. Misalkan di Fakultas Teknik saja ada beberapa BSO yang sudah cukup besar. Tenang dulu itu belum selesai, masih ada wadah aktivitas semacam organisasi karena menurut saya kegiatan ini terorganisasi dengan baik, yaitu AAI (Asistensi Agama Islam) ataupun kegiatan kerohanian lainnya untuk teman-teman dari berbagai kepercayaan. AAI ini saja memiliki beberapa tingkatan yang terdiri dari tingkat jurusan, fakultas, kemudian yang lebih besar lagi tingkat universitas (Correct Me If I’m Wrong). Selain itu masih banyak lagi wadah aktivitas di luar kampus seperti KAMMI, HMI, PMII, Forum Lingkar Pena, dan sebagainya.
Hehe :D sekarang dibayangkan saja jika mahasiswa semester pertama didesak kanan-kiri untuk memilih mana wadah yang cocok pasti mereka bingung. Di awal dulu saya ditawari beberapa teman untuk ikut yang ini, yang itu, yang di sini, atau yang di sana. Huwaa.. saya bingung! Memasuki semester kedua barulah saya makin memahami gejolak “rebutan” wadah aktivitas kemahasiswaan ini.
Melalui pengamatan yang kontinyu disertai renungan, saya berpendapat organisasi kemahasiswaan akan diikuti oleh mereka yang memiliki kesamaan visi dan misi. Misalnya UKM renang hanya akan diikuti oleh mereka yang ingin serius mendalami olahraga renang untuk mengejar prestasi atau minimal untuk kebugaran tubuh. Teman-teman yang bergabung di BEM ingin melatih diri dengan menerapkan nilai-nilai kepemimpinan, manajemen, problem solving, dan sebagainya. Semua hal itu tidak bisa terlepas dari visi dan misi setiap individu. Bisa dipastikan mahasiswa yang tidak sesuai visi-misi organisasi dengan pribadinya akan melangkah mundur pelan pasti.
Apalagi (tumbuhnya orientasi) tuntutan kerja di masa mendatang membutuhkan lulusan yang tidak hanya memiliki hard skill tapi juga soft skill. Persaingan makin ketat, mahasiswa terus didorong untuk meng-improve soft skill-nya. Kita berbicara tentang soft skill, poin ini hanyalah salah satu visi-misi yang dikejar, itu hanya salah satu visi-misi masih ada deretan visi-misi yang begitu beragam yang menjadi alasan seseorang terjun ke aktivitas tertentu.
Tidak sedikit yang menjadi pragmatis, masuk ke dalam wadah yang sebetulnya tidak terlalu membuat dia makin dekat dengan visi dan misi di masa mendatang tapi justru hanya digunakan untuk mengisi waktu luang disela kuliah. Sehingga aktivitas ini tidak terlalu membawa manfaat.
Saking pragmatisnya, ada teman-teman yang memiliki visi-misi tapi berjangka pendek. Sehingga mereka memilih aktivitas yang betul-betul sesuai dengan visi-misi jangka pendeknya. Visi-misi jangka panjangnya tak sengaja terlupakan.
Di tengah banyaknya pilihan aktivitas, mulai timbul gerakan apatis dari yang sudah masuk maupun yang belum masuk dari berbagai aktivitas. Teman mahasiswa yang sudah masuk bisa jadi mundur pelan-pelan. Mereka yang belum masuk masih diasyikkan dengan aktivitas lainnya, agaknya mereka lupa dengan visi-misi besar yang harus terus dikejar. Gerakan apatis ini muncul dari banyak faktor.
Di wadah dimana saya mengaktifkan diri juga dilanda krisis apatis dengan berbagai faktor yang mendukungnya. Teman-teman mulai tidak mengaktifkan diri pelan namun pasti. Semisal, program kerja organisasi tidak dapat berjalan dengan baik. Jika tidak segera diisi tenaga berkualitas, sedangkan anggota sedikit demi sedikit keluar maka fungsi organisasi lama-lama dipertanyakan. Mungkin menjadi pantas jika bertanya, “Masih perlukah keberadaan organisasi X ini?”, “Siapa yang menjalankan program kerja?”, “Bagaimana kita melakukan kaderisasi tanpa anggota baru yang ideal?”, dan banyak deretan pertanyaan lainnya.
Jika saya ditanya seberapa penting kita untuk terjun di aktivitas yang mendukung visi-misi kita, jelas saya jawab penting! Dan poin yang harus diperhatikan ialah apa isi visi-misi kita? Apakah itu visi-misi yang sepele atau besar? Apakah itu visi-misi yang mudah atau sulit? Untuk siapa visi-misi itu nantinya membawa manfaat? Sebaik apakah isi visi-misi itu? Dan banyak pertanyaan mengenai visi dan misi. Sehingga orientasi di sini menjadi sangat penting. Visi dan misi yang kita buat akan sangat menentukan masa depan kita.
Saya tidak bermaksud berpendapat bahwa visi-misi jangka pendek itu tidak baik dan lebih baik merencanakan visi-misi jangka panjang saja. Bukan seperti itu! justru kedua-duanya ini penting untuk direncanakan. Prinsipnya memaksimalkan manfaat dan meminimalkan kerugian. Apapun yang kita lakukan (seharusnya) berprinsip pada itu. Itulah mengapa sejak awal menjadi mahasiswa saya harus memilah-milah mana aktivitas yang akan mendukung visi-misi saya jangka pendek maupun jangka panjang. Analisa panjang saya lakukan sepanjang semester pertama.
Kemudian dalam merancang visi-misi sebaiknya berisi sesuatu yang baik dan merupakan nilai luhur tentang apa yang kita yakini. Bisa jadi ini sangat erat dengan kepercayaan kita ataupun hal yang lain. Merumuskan visi dan misi yang kurang baik akan mempengaruhi masa depan, intinya rumuskan sesuatu yang pastinya menguntungkan kita. Fitrah manusia kan seperti itu? Tapi menguntungkannya itu juga harus menguntungkan orang lain, jangan egois :).
Panjang lebar saya membahas aktivitas kemahasiswaan di luar kuliah jangan sampai membuat kita lupa bahwa kita dikirim ke institusi ini untuk menuntut ilmu. Saya jauh-jauh dari Malang “memaksa” orang tua agar rela mengeluarkan setumpuk uang dan tetes air mata bukan untuk mengikuti organisasi pilihan kita, tapi untuk kuliah di kelas!
Beranggapanlah bahwa visi-misi di depan kita setelah kuliah hanya bisa ter-cover dengan kemampuan organisasi. Namun untuk sampai masa setelah kuliah itu yaa harus diselesaikan dulu kuliahnya, iyaa kan? Saya banyak belajar dari kakak-kakak angkatan bagaimana bisa seimbang antara kuliah dan aktivitasnya di luar kuliah. So, mustahil meraih yang di depan kalau yang saat ini saja belum terselesaikan. Sebagai mahasiswa, manusia dewasa, kita tentu tahu bagaimana membuat skala prioritas.
Akan menjadi sesuatu yang istimewa ketika kita menjadikan visi-misi kita sebagai totalitas penghambaan kita kepada Allah. Setiap aktivitas adalah ibadah, maka semua akan terasa nikmat dan tenang. Senantiasa bersyukur atas kasih sayang Allah, maka akan ditambahkan-Nya kasih sayang itu lagi dan lagi. Enak kan?
Bisa direnungkan dan selamat mencoba..
Salam hangat dari penulis.
Memang belum genap satu tahun saya menjadi mahasiswa, namun hal itu tinggalah hitungan minggu. Karena seperti kita tahu UGM sudah mengumumkan calon mahasiswa baru perguruan tinggi terkemuka ini. Dan tak terasa, sebentar lagi angkatan 2009 sudah mempunyai adik angkatan 2010.
Jujur saja jika saya berbicara organisasi dirasa memang belum pantas, masih anak bawang, tapi saya tetap ingin menyampaikan beberapa pesan dalam tulisan ini. Mari kita putar waktu kembali kira-kira ke tahun lalu, untuk mengingat saat saya dibingungkan melihat begitu banyak organisasi yang harus saya pilih maupun tidak.
Wajar saja, perguruan tinggi sebesar ini memliki begitu banyak wadah aktivitas bagi pelajarnya. Berbagai jenis wadah positif bisa kita ikuti untuk memperdalam dan memfokuskan minat dan bakat kita. Tersedia puluhan pilihan Unit Kegiatan Mahasiswa, tinggal dipilih mana yang lebih diminati. Mungkin ada teman-teman yang ingin mengisi waktu disela kuliah dengan kegiatan diskusi, menulis, bela diri, olahraga, kesenian, kepanduan, dan sebagainya. Di luar UKM juga masih ada organisasi kepolitikan seperti BEM KM dan BEM Fakultas. Belum lagi organisasi KM atau HM (Keluarga/Himpunan Mahasiswa) yang ada di setiap jurusan. Masih ada lagi wadah aktivitas kemahasiswaan BSO atau LSO (Badan/Lembaga Semi-Otonom) yang ada di hampir semua fakultas. Misalkan di Fakultas Teknik saja ada beberapa BSO yang sudah cukup besar. Tenang dulu itu belum selesai, masih ada wadah aktivitas semacam organisasi karena menurut saya kegiatan ini terorganisasi dengan baik, yaitu AAI (Asistensi Agama Islam) ataupun kegiatan kerohanian lainnya untuk teman-teman dari berbagai kepercayaan. AAI ini saja memiliki beberapa tingkatan yang terdiri dari tingkat jurusan, fakultas, kemudian yang lebih besar lagi tingkat universitas (Correct Me If I’m Wrong). Selain itu masih banyak lagi wadah aktivitas di luar kampus seperti KAMMI, HMI, PMII, Forum Lingkar Pena, dan sebagainya.
Hehe :D sekarang dibayangkan saja jika mahasiswa semester pertama didesak kanan-kiri untuk memilih mana wadah yang cocok pasti mereka bingung. Di awal dulu saya ditawari beberapa teman untuk ikut yang ini, yang itu, yang di sini, atau yang di sana. Huwaa.. saya bingung! Memasuki semester kedua barulah saya makin memahami gejolak “rebutan” wadah aktivitas kemahasiswaan ini.
Melalui pengamatan yang kontinyu disertai renungan, saya berpendapat organisasi kemahasiswaan akan diikuti oleh mereka yang memiliki kesamaan visi dan misi. Misalnya UKM renang hanya akan diikuti oleh mereka yang ingin serius mendalami olahraga renang untuk mengejar prestasi atau minimal untuk kebugaran tubuh. Teman-teman yang bergabung di BEM ingin melatih diri dengan menerapkan nilai-nilai kepemimpinan, manajemen, problem solving, dan sebagainya. Semua hal itu tidak bisa terlepas dari visi dan misi setiap individu. Bisa dipastikan mahasiswa yang tidak sesuai visi-misi organisasi dengan pribadinya akan melangkah mundur pelan pasti.
Apalagi (tumbuhnya orientasi) tuntutan kerja di masa mendatang membutuhkan lulusan yang tidak hanya memiliki hard skill tapi juga soft skill. Persaingan makin ketat, mahasiswa terus didorong untuk meng-improve soft skill-nya. Kita berbicara tentang soft skill, poin ini hanyalah salah satu visi-misi yang dikejar, itu hanya salah satu visi-misi masih ada deretan visi-misi yang begitu beragam yang menjadi alasan seseorang terjun ke aktivitas tertentu.
Tidak sedikit yang menjadi pragmatis, masuk ke dalam wadah yang sebetulnya tidak terlalu membuat dia makin dekat dengan visi dan misi di masa mendatang tapi justru hanya digunakan untuk mengisi waktu luang disela kuliah. Sehingga aktivitas ini tidak terlalu membawa manfaat.
Saking pragmatisnya, ada teman-teman yang memiliki visi-misi tapi berjangka pendek. Sehingga mereka memilih aktivitas yang betul-betul sesuai dengan visi-misi jangka pendeknya. Visi-misi jangka panjangnya tak sengaja terlupakan.
Di tengah banyaknya pilihan aktivitas, mulai timbul gerakan apatis dari yang sudah masuk maupun yang belum masuk dari berbagai aktivitas. Teman mahasiswa yang sudah masuk bisa jadi mundur pelan-pelan. Mereka yang belum masuk masih diasyikkan dengan aktivitas lainnya, agaknya mereka lupa dengan visi-misi besar yang harus terus dikejar. Gerakan apatis ini muncul dari banyak faktor.
Di wadah dimana saya mengaktifkan diri juga dilanda krisis apatis dengan berbagai faktor yang mendukungnya. Teman-teman mulai tidak mengaktifkan diri pelan namun pasti. Semisal, program kerja organisasi tidak dapat berjalan dengan baik. Jika tidak segera diisi tenaga berkualitas, sedangkan anggota sedikit demi sedikit keluar maka fungsi organisasi lama-lama dipertanyakan. Mungkin menjadi pantas jika bertanya, “Masih perlukah keberadaan organisasi X ini?”, “Siapa yang menjalankan program kerja?”, “Bagaimana kita melakukan kaderisasi tanpa anggota baru yang ideal?”, dan banyak deretan pertanyaan lainnya.
Jika saya ditanya seberapa penting kita untuk terjun di aktivitas yang mendukung visi-misi kita, jelas saya jawab penting! Dan poin yang harus diperhatikan ialah apa isi visi-misi kita? Apakah itu visi-misi yang sepele atau besar? Apakah itu visi-misi yang mudah atau sulit? Untuk siapa visi-misi itu nantinya membawa manfaat? Sebaik apakah isi visi-misi itu? Dan banyak pertanyaan mengenai visi dan misi. Sehingga orientasi di sini menjadi sangat penting. Visi dan misi yang kita buat akan sangat menentukan masa depan kita.
Saya tidak bermaksud berpendapat bahwa visi-misi jangka pendek itu tidak baik dan lebih baik merencanakan visi-misi jangka panjang saja. Bukan seperti itu! justru kedua-duanya ini penting untuk direncanakan. Prinsipnya memaksimalkan manfaat dan meminimalkan kerugian. Apapun yang kita lakukan (seharusnya) berprinsip pada itu. Itulah mengapa sejak awal menjadi mahasiswa saya harus memilah-milah mana aktivitas yang akan mendukung visi-misi saya jangka pendek maupun jangka panjang. Analisa panjang saya lakukan sepanjang semester pertama.
Kemudian dalam merancang visi-misi sebaiknya berisi sesuatu yang baik dan merupakan nilai luhur tentang apa yang kita yakini. Bisa jadi ini sangat erat dengan kepercayaan kita ataupun hal yang lain. Merumuskan visi dan misi yang kurang baik akan mempengaruhi masa depan, intinya rumuskan sesuatu yang pastinya menguntungkan kita. Fitrah manusia kan seperti itu? Tapi menguntungkannya itu juga harus menguntungkan orang lain, jangan egois :).
Panjang lebar saya membahas aktivitas kemahasiswaan di luar kuliah jangan sampai membuat kita lupa bahwa kita dikirim ke institusi ini untuk menuntut ilmu. Saya jauh-jauh dari Malang “memaksa” orang tua agar rela mengeluarkan setumpuk uang dan tetes air mata bukan untuk mengikuti organisasi pilihan kita, tapi untuk kuliah di kelas!
Beranggapanlah bahwa visi-misi di depan kita setelah kuliah hanya bisa ter-cover dengan kemampuan organisasi. Namun untuk sampai masa setelah kuliah itu yaa harus diselesaikan dulu kuliahnya, iyaa kan? Saya banyak belajar dari kakak-kakak angkatan bagaimana bisa seimbang antara kuliah dan aktivitasnya di luar kuliah. So, mustahil meraih yang di depan kalau yang saat ini saja belum terselesaikan. Sebagai mahasiswa, manusia dewasa, kita tentu tahu bagaimana membuat skala prioritas.
Akan menjadi sesuatu yang istimewa ketika kita menjadikan visi-misi kita sebagai totalitas penghambaan kita kepada Allah. Setiap aktivitas adalah ibadah, maka semua akan terasa nikmat dan tenang. Senantiasa bersyukur atas kasih sayang Allah, maka akan ditambahkan-Nya kasih sayang itu lagi dan lagi. Enak kan?
Bisa direnungkan dan selamat mencoba..
Salam hangat dari penulis.
Rifqi Ikhwanuddin
Mahasiswa Teknik Fisika UGM 09
Media dan Informasi Cendekia Teknika UGM
24 April 2010 00:04 AM
Mahasiswa Teknik Fisika UGM 09
Media dan Informasi Cendekia Teknika UGM
24 April 2010 00:04 AM











