
Bergegas, beruntung saya masih bisa mempersiapkan diri untuk menuju masjid. Beberapa puluh meter dari masjid rupanya sudah dikumandangkan iqamah, sehingga saya berlari untuk mengejar jamaah yang sudah mulai merapatkan barisan shaf.
Dengan terengah-engah saya memasuki masjid dan langsung masuk ke barisan shaf yang kosong. Ironi memang, tidak sedikit anak-anak yang juga ikut shalat jumat, kita harus mengapresiasi itu. Tapi justru kebanyakan dari mereka datang ke masjid tersebut bukan untuk shalat tapi hanya untuk berseda gurau dengan kawannya.
Saat khutbah Jumat lalu misalnya, anak-anak seperti biasa bebas tertawa keras dan bergurau dengan temannya. Tidak ada yang melarang atau mengingatkan memang, termasuk saya. Saya hanya bisa mengamati dari kejauhan dan berusaha konsentrasi mendengarkan khutbah.
Daerah sini (tempat tinggal asli saya di Malang) memang perumahan, tapi lebih mirip kampung yang disulap menjadi perumahan. Jadi komposisi warganya yang dominan merupakan dari kalangan intelektual menengah ke bawah.
Imam sudah melakukan takbir, diikuti dengan jamaah lain termasuk anak-anak. Namun sayangnya masih banyak warga sini yang belum tahu bagaimana mengisi shaf yang benar. Saya melihat shaf di ujung kanan dan ujung kiri tidak diisi penuh dan malah membuat shaf baru di belakang. Bahkan saya seringkali menjumpai termasuk pada Jumat yang lalu, terdapat shaf-shaf yang lubang padahal itu ada di tengah-tengah jamaah, dan apa yang terjadi? Orang dewasa yang ada di belakangnya tidak segera maju mengisi! Saya sedih dan jengkel karena barisan shaf diisi dengan sangat renggang—mengandalkan lebar sajadah bukan kaki—dan bahkan kosong-kosong, ditambah lagi gurauan dan teriakan anak-anak sepanjang shalat. Seharusnya ilmu itu diajarkan kepada mereka sebelum praktiknya yang kemana-mana, demi keselamatan umat itu sendiri kan? Tapi siapa yang bisa?
Yang paling menggemaskan ialah saat anak-anak di belakang saya sedang berlarian dan berteriak-teriak. Saya hanya bisa berdoa, semoga orang tua anak-anak tersebut—banyak-banyak—diberi petunjuk oleh Allah, semoga diberi ilmu untuk mendidik anak-anaknya.
Seusai shalat Jumat, saya menyengaja berlama-lama di masjid untuk berdzikir sekaligus mengamati pembacaan dzikir yang dikeraskan oleh sang Imam. Rupanya sejak saya kecil sampai sekarang tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam ini masih dipertahankan.
Setelah dirasa cukup, saya beranjak untuk segera keluar dari masjid. Seseorang yang masih muda namun sepertinya sedikit lebih tinggi dari saya, memberikan selembar kertas. Isinya semacam formulir yang bisa kita isi dengan nama keluarga dan rincian nama-nama anggota keluarga yang telah meninggal.
Saya coba untuk menuliskan kembali isi dari kertas tersebut.
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Untuk mencapai ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan serta terjada dari api neraka, marilah kita rajin BERSHODAKOH. Sebagaimana Sabda Rosulullah SAW, "Jagalah Dirimu Dari Api Neraka Walau Dengan SHODAKOH Separuh Dari Biji Kurma". (Bukhari - Muslim).
Untuk menolong dan membantu Almarhum / Almarhumah (Ahli Kubur) dari keluarga kita, yang dialam kubur sana, maka kita wajib selalu mendo’akannya. Sebagaimana Sabda Rosulullah SAW. "Apabila Seseorang Telah Mati, maka putuslah amalnya kecuali tiga perkara yaitu , SHODAKOh Jariyah, ILMU Yang Bermanfaat, dan DO’ANYA anak yang Sholeh".
Oleh sebab itu marilah kita laksanakan itu semua (SHODAKOH dan KIRIM DO’A) melalui sarana Khotmil Qur-an yang diselenggarakan oleh Masjid BAITUL MAKMUR secara rutin setiap hari Kamis / malam Jum’at Legi (Jum’at Manis).
Semoga amal ibadah Bapak/Ibu/ Saudara akan mendapat Rahmat, Hidayah dan Ridho serta kebaikan yang melimpah dari Allah SWT, Amin...................
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Tulisan di atas saya salin tanpa mengurangi isi maupun cara penulisan, segala kesalahan tulis—yang menurut saya memalukan—sama sekali tidak dibetulkan dan dibiarkan persis apa adanya. Tulisan ini ditandatangani oleh Takmir Masjid dan Penyelenggara Khotmil Quran yang tidak pantas disebutkan namanya disertai stampel Takmir Masjid BAITUL MAKMUR.
Kemudian di bawah tulisan tadi ada lagi persis seperti di bawah ini.
Pengirim; Dari Keluarga..........................................
- .............................................................................................................
- .............................................................................................................
- .............................................................................................................
- .............................................................................................................
- .............................................................................................................
- .............................................................................................................
- .............................................................................................................
- .............................................................................................................
- .............................................................................................................
- .............................................................................................................
Saya jadi ingin membahas bagaimana cara memahami hadist yang dikutip oleh si Takmir di atas. Jadi memang benar hadistnya kurang lebih berbunyi seperti itu, kata-kata "shodakoh" yang aneh sebaiknya ditulis "shadaqah" karena literasi ke bahasa arabnya sesuai kesepakatan Kementerian Agama lebih tepat. Namun sepertinya shadaqah jariyah bisa dimaknai sebagai amal jariyah. Jadi tidak hanya sesuatu yang berupa materi saja ketika dimaknai sebagai shadaqah, melainkan bisa amal (perbuatan) yang bermanfaat bagi banyak orang dan dapat dimanfaatkan secara terus-menerus demi kebaikan umat. Seperti seorang tukang kayu yang membuatkan meja bagi sarana belajar mengajar tanpa mengambil untung cuma ambil modal dan dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha dari Allah, itu sudah masuk dalam kategori amal jariyah. Sehingga setelah dia meninggal, selama meja itu masih dimanfaatkan maka pahala dari siswa-siswi yang belajar dapat mengalir terus kepada almarhum.
Para ahli ilmu menyatakan bahwa shadaqah jariyah memiliki banyak macam dan jalannya, seperti membuat sumur umum, membangun masjid, membuat jalan atau jembatan, menanam tumbuhan baik berupa pohon, biji-bijian atau tanaman pangan, dan lainnya.
Jadi, menghijaukan lingkungan dengan tanaman yang kita tanam merupakan shadaqah dan amal jariyah bagi kita—walau telah meninggal—selama tanaman itu tumbuh atau berketurunan.
Saya melihat ada tendensi penggunaan istilah yang memanfaatkan momen doa kematian ini sebenarnya ingin mengambil harta kaum muslimin di sekitar perumahan untuk sesuatu hal yang sesungguhnya keliru. Anehnya kegiatan ini sudah berlangsung lama tanpa seorangpun berusaha menghentikannya. Atau memang kemungkaran sudah parah-parahnya?
Selanjutnya pada bagian kirim doa kepada orang yang sudah meninggal dengan dasar, "..., dan DO’ANYA anak yang Sholeh", apakah sudah tepat cara memaknainya? Logikanya jamaah yang hadir haruslah anak atau keturunan yang sudah meninggal! Saya kira doa itu urusan pribadi kita kepada Allah langsung sehingga tidak perlu orang lain, kecuali Allah atau Rasul pernah menunjukkan caranya. buktinya pada zaman Rasul sahabat yang meninggal tidak pernah satu hadistpun yang meriwayatkan Rasul dan sahabat lain berkumpul meminta shadaqah kepada sahabat kaya lain untuk berkumpul dalam masjid mendoakan sahabat yang meninggal dengan cara mengkhatamkan Al Quran.
"Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi[914]." (QS At Thaahaa: 20)
[914] maksudnya: tidak perlu mengeraskan suara dalam mendoa, karena Allah mendengar semua doa itu walaupun diucapkan dengan suara rendah.
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas[549]." (QS Al A'raaf: 55)Sudah jelas bukan? Kalau Anda menjumpai seseorang berdoa dengan suara yang dikeraskan, apa maksud dia mengeraskan doanya tersebut? Apakah mengeraskan karena ilmu atau hanya nafsu? Saya khawatir ada sikap riya' atau pamer ingin dilihat orang karena pandai berdoa dengan bahasa arab, atau mungkin karena hal lain.
[549] maksudnya: melampaui batas tentang yang diminta dan cara meminta.
Pernah saya mendengar cerita nyeleneh dari Almarhum Gusdur. Untuk menghindari kesalahan karena ingatan saya yang waktu itu kurang baik, saya carikan dari internet saja. Saya temukan di website missionaris http://indonesia.faithfreedom.org/forum. Dengan judul "Mengapa Islam kalau Sembahyang Pakai Pengeras Suara", bisa Anda lihat di forum ini adu argumentasi mengenai judul di atas sangat hangat terasa.
Jadi kurang lebih seperti ini ceritanya.
Ketika Gusdur menjadi Presiden RI dia kedatangan 3 tokoh agama. Islam, Hindu, dan Kristen. Disambutlah mereka semua di istana. Ketika sedang ramah tamah Gusdur bertanya kepada ketiga tokoh agama tersebut.
Gusdur: "Kalian sebagai tokoh agama, seberapa dekatkah kalian dengan Tuhan kalian??? Coba kalian jelaskan kepada saya."
Hindu: "Baik Gus, umat Hindu ketika berdoa kepada Sang Widi, kami mengatakan: oooom, ..."
Gusdur "Wah hebat ternyata umat Hindu adalah keponakannya sang pencipta. Makanya Tuhannya dipanggil oom. Kalau kamu bagaimana?" Gusdur melihat sang pendeta.
Pendeta: "Kami sangat dekat dengan Tuhan kami, dan ketika kami berdoa kami memanggilnya Bapa."
Gusdur: "Hebat ternyata umat Kristen anaknya Tuhan, mereka memanggil Tuhannya dengan kata Bapa, hebat."
Kemudian Gusdur melihat kepada pak haji yang mewakili umat islam.
Gusdur: "Bagaimana? Pastilah kita umat islam lebih dekat dengan Allah dari pada mereka, benar kan?"
Pak Haji: "Gus, jangan suka becanda. Boro-boro kita dekat, kalo mau sembahyang aja kita harus teriak-teriak dan kalo perlu pake TOA (merk pengeras suara)."
Terlepas dari unsur SARA, saya kira meskipun ada perubahan sedikit mengenai isi cerita tapi intinya cerita ini menyindir umat kita yang mengeraskan bacaan doa dan dzikir (bahkan) dengan pengeras suara. Ya, bisa Anda lihat sendiri di kalangan NU banyak tradisi yang melenceng terus dijalankan. Pujian setelah Adzan bukankah agaknya mengganggu non-muslim? Saya kira agak berlebihan memang. Cukuplah Adzan sebagai pemanggil muslim untuk melakukan shalat jamaah, tidak usah menggunakan pujian-pujian yang tidak satupun orang yang peduli bahwa mungkin saja ada non-muslim yang merasa terganggu.
Saya menyimpan sebuah rekaman tausyiyah dengan judul, "Mantan Hindu Menggugat Tahlilan". Isinya ialah seorang Muallaf dari Hindu dan kemudian membeberkan semua misi-misi hindu untuk menghancurkan akidah muslim. Beliau mengatakan, "Hindu dengan sukses memasukkan nilai-nilai ajarannya ke dalam ajaran Islam kecuali satu hal, yaitu membakar mayat." Sekarang coba Anda telusuri ajaran yang mana yang beliau maksud? Lihat nisan kita? Lama-lama makin mirip candi bukan? Dibangun di atasnya (kuburan) sebuah bangunan, yang menurut Islam sesungguhnya bid’ah. Namun tetap saja tradisi ini turun-temurun dijalankan.
Saat ini saya kuliah di jogja dan saya bisa melihat sendiri banyak sekali kemusyrikkan yang justru tumbuh dengan subur. Bisa Anda hitung berapa banyak hal musyrik—bid’ah, takhayul, dan khurafat—yang terjadi di setiap tradisi para abdi dalem di kraton Yogyakarta.
Alangkah baiknya kita tetap menjaga budaya yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Seringkali kita terjebak pada permasalahan budaya dan ajaran Islam itu sendiri, perlu diketahui ajaran Islam itu bukan budaya arab. Jadi jangan disalahartikan kata-kata saya ini untuk mengubah budaya kita menjadi budaya arab, itu salah besar! Cara berpakaian rakyat Indonesia umumnya ya seperti yang Anda kenakan ini, namun pakaian tersebut haruslah sopan dan menutup aurat—sesuai syariat. Tidak cukup sopan bukan? Karena sopan relatif, budaya barat dan timur mempunyai kadar sopannya masing-masing.
Kadang secara radikal saya pernah berpikiran hingga saat ini, Indonesia sulit diajak maju karena terlalu banyak memiliki budaya lokal. Padahal jika budaya itu tetap dijaga di samping terus menegakkan kalimat Allah di bumi Indonesia saya berkeyakinan tidak butuh waktu yang terlalu lama untuk Indonesia tampil menjadi negara maju.
Alon-Alon Gak Klakon
Saya ambilkan dari buku Pak Puh (Pak Dhe atau Paman) saya, MISSION INI POSSIBLE.
Ada adagium yang cukup terkenal dan kuat pada masyarakat etnis jawa; alon-alon waton klakon (pelan-pelan asalkan terlaksana). Saya termasuk yang suka mengkritisi adagium itu, karena mungkin bisa juga klakon (terlaksana), tapi waton (asal-asalan, asal terlaksana), tidak kompetitif dan tidak efisien. dan akhirnya, klakon yang tidak memberi nilai tambah apa-apa.
Di samping itu prinsip 'alon-alon waton klakon' ini saya kira kurang tepat dikembangkan di era yang penuh persaingan dan kompetisi ini. Cukup merisaukan, dengan kuatnya penetrasi adagium ini dalam pola pikir dan etos kerja orang-orang etnis Jawa, termasuk Indonesia (meski saya sendiri Jawa tulen).
Perhatikan, kantor-kantor layanan publik baik negeri maupun swasta yang belum tersentuh manajemen modern, pastilah atensi dan kecepatan layanannya mengecewakan. Dipastikan, jika kebiasaan ini dibiarkan akan mengurangi produktivitas dan melemahkan daya saing. Pantaslah, jika beberapa survei dunia mencatat, produktivitas bangsa Indonesia selalu paling rendah (posisi di bawah) dibanding dengan bangsa-bangsa serumpun, apalagi dengan dunia?
Di era yang penuh dengan kompetisi ini berlaku adu cepat dan tepat, alon-alon waton klakon sudah ketinggalan zaman. Untuk meraih sukses, pribadi maupun perusahaan, diharamkan prinsip asal terlaksanan, apalagi terlaksanan yang asal-asalan. Mari kita bekerja dan hidup dengan prinsip trengginas nglakoni, ora mung klakon waton. :)
Sebagai penutup saya ingin menyampaikan, jangan campur adukkan antara yang haq dan batil. Seperti dalam ilmu logika,
jika benar dan benar maka benar,
jika benar dan salah maka salah,
jika salah dan benar maka salah, dan yang terakhir
jika salah dan salah maka salah.
wa Allahu a'lamu.. ^^
tag: nahdlatul ulama, gusdur, gus dur, abdurrahman wahid, islam, pemikiran, opini, indonesia, sukses, maju, logika, hadist, al quran, dasar, nafsu, ilmu, alim, kelompok, masyarakat, tradisi, hindu, kristen, katolik, nasrani, missionaris, tahlilan, kematian, kirim doa, bid'ah, tahayul, takhayul, khurafat, kafir, kufr, cover, tertutup, tutup, penutup, hidayah, petunjuk, huda, misbahul, mission ini possible, buku, dahlan iskan, best seller, temprina, jepe, book, almarhum, keliru, salah, benar, & NU.












http://www.masdoyok.co.cc/2010/05/upsate-status-via-blog-untuk-promosi.html
Assalaamu 'alaikum. Tolong dikirimkan file copy rekaman mantan hindu menggugat tahlilan ke email saya : ahmad.mahfud@gmail.com.
Jazakumullah khoir.